adminsite

01 March 2020

No Comments

Home News

Layanan Terapi Gratis untuk Anak Penyandang Autis di Jakarta

Layanan Terapi Gratis untuk Anak Penyandang Autis di Jakarta

Oleh Ulfa Rahayu

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan

Memiliki anak penyandang autisme bukan hal mudah. Orangtua harus punya tenaga dan keuangan ekstra untuk biaya terapis yang tidak murah. Karena itu, adanya layanan terapi gratis untuk anak penyandang autis untuk keluarga yang tidak mampu tentu bisa melegakan banyak orang. 

Anak dengan autisme lahir dengan keadaan khusus dan butuh penanganan yang khusus juga. Mereka membutuhkan perhatian lebih banyak dari anak-anak pada umumnya. Dalam hal ini, dibutuhkan sebuah proses terapi yang konsisten dan berkelanjutan.

Namun biaya terapi untuk penyandang autisme tidak sedikit. Di sekitaran Jabodetabek biaya terapi untuk anak autisme berada di kisaran Rp. 200.000 per sesi. Lalu, adakah layanan terapi yang gratis, terutama di Jakarta? Ada.

Layanan terapi gratis untuk anak autis di YCHI Jakarta

belum bisa bicara gejala autisme

Lima pasang ibu dan anak terlihat melakukan gerakan melirik kanan dan kiri. Sang anak terlihat berusaha melakukan lirikan tapi pandangan matanya sulit untuk fokus. Lalu anak itu terlihat tersenyum-senyum sambil melakukan gerakan yang tidak stabil. 

Setiap pasang ibu dan anak ini didampingi oleh satu pelatih. Mereka sedang melakukan gerakan yoga sebagai terapi untuk anak autis di  Yayasan Cinta Harapan Indonesia (YCHI). YCHI menyediakan layanan terapi gratis bagi anak penyandang autis dari keluarga ekonomi bawah. 

YCHI didirikan oleh pasangan Zulfikar Alimuddin dan Nila Susanti. Mereka mendirikan YCHI setelah merasakan berjuang menyediakan pendidikan untuk putranya yang juga penyandang autisme. Nila ingin memberikan harapan pada anak berkebutuhan khusus agar bisa tetap mendapatkan pendidikan yang baik. 

Sebelas tahun berdiri, saat ini YCHI telah memiliki belasan 13 klinik yang berada di Jabodetabek, Bandung, Madiun, Semarang, Kudus, Demak, Jepara, Blora, Madiun, Mataram, dan Lombok.

Perkembangan YCHI ini dilalui dengan cerita panjang. Tahun pertama berdiri, YCHI memperkenalkan diri ke masyarakat dari pintu ke pintu, dari orang ke orang, mencari mereka yang membutuhkan bantuannya.

“Untuk memberikan awareness pada masyarakat soal autisme saja saat itu masih sulit, bahwa ini autisme dan butuh penanganan khusus,” tutur Jufrie AM, ketua harian YCHI.

Di Jabodetabek, perkembangan YCHI terbilang melesat. Namun saat melebarkan sayap kasih ke daerah, di situlah tantangan muncul. Jufrie bercerita, saat merambah wilayah ke Jawa Tengah, mereka masih menemukan anak penyandang autisme yang dipasung.

“Saya ingat anak itu dipasung karena orangtuanya harus ke ladang,” kata Jufrie.

Ketika ditanya alasannya memasung putrinya si orangtua menjawab: “energi dia besar sekali, kalau nggak dipasung itu bisa mengganggu ternak tetangga,” ujar Jufrie menirukan yang dikatakan orangtua si anak. 

Kasus seperti itu bukan satu dua saja. Di pelosok-pelosok, anggapan anak autisme itu gila dan menjadi olok-olok juga belum sepenuhnya hilang.

“Terlalu jauh untuk meminta kesetaraan kesempatan bekerja untuk anak penyandang autisme, sedangkan untuk mendapatkan penanganan selayaknya belum terpenuhi,” jelas Jufri

.

Bagaimana bisa mendapatkan terapi gratis untuk anak autis di YCHI?

terapi anak autis gratis

Untuk bisa mendapatkan layanan terapi gratis untuk anak autis di YCHI bisa langsung menghubungi klinik terdekat dan mendaftar. Setelah mendaftar, tim dari YCHI akan melakukan verifikasi.

“Pelayanan kami dikhususkan untuk penyandang autisme dari keluarga prasejahtera. Jadi kami perlu tahu betul kondisi keluarga mereka seperti apa,” jelas Jufrie. 

Jufrie menjelaskan jangan sampai dana dari para donatur dikelola dan sampai kepada yang tidak tepat.  “Semua ini kami lakukan supaya layanan ini benar-benar sampai sesuai target kepada orang-orang yang membutuhkan.”

YCHI juga akan mendatangi rumah pendaftar untuk melakukan survei. Mereka mengecek kepala keluarganya berprofesi sebagai apa, berapa penghasilannya, berapa tanggungannya, termasuk memperkirakan bagaimana akses mereka nanti untuk ke klinik. 

YCHI juga melakukan komunikasi awal tentang bagaimana kondisi anak mereka yang diduga autisme.

Setelah semua selesai, orangtua dan anak akan dijadwalkan untuk bertemu dengan dokter dan psikolog. Mereka akan melakukan sesi pemeriksaan untuk mengetahui diagnosa si anak. 

Diagnosis ini, menurut Jufrie, akan dijadikan dasar untuk menyusun kurikulum terapi. Karena setiap individu memiliki variasi perwujudan gejala, dan tingkat keparahan kondisi yang berbeda pada setiap orang.

“Kurikulum yang kami terapkan itu individu education program. Kebutuhan tindakan si anak semua ada di dalam kurikulum itu,” terang Jufrie. “Dari kurikulum tersebut psikolog akan membuatkan program harian untuk si anak.”

Setelah diagnosa selesai, kurikulum selesai, dan program harian dibentuk, maka anak penyandang autisme siap untuk melakukan sesi terapi di YCHI.

Terapi yang diberikan dengan metode ABA

terapi autisme ABA

Meski layanan terapi yang dilakukan YCHI gratis untuk anak autis, metode terapi yang diberikan tentu saja bukan yang asal-asalan. Semua dipersiapkan dengan baik.

YCHI menggunakan metode Applied Behavior Analysis (ABA). Metode terapi dengan pendekatan ilmiah yang telah tervalidasi untuk memahami perilaku menyimpang pada individu yang memiliki autisme. 

Program ABA berfokus pada mengajarkan keterampilan khusus untuk anak autisme. Terapi ini dimaksudkan bagi anak penyandang autisme untuk dapat memahami dan mengikuti instruksi verbal, mengerti mana perintah mana larangan, merespons perkataan orang lain, hingga mendeskripsikan sesuatu. Menyederhanakan perilaku dan keterampilan yang kompleks menjadi komponen-komponen sederhana.

Applied Behavior Analysis (ABA) hanya berfokus pada satu hal yakni mengubah perilaku seseorang. Dalam beberapa sumber dan jurnal ilmiah disebutkan, untuk saat ini ABA adalah satu-satunya metode intervensi yang telah terbukti secara ilmiah membentuk hasil yang komprehensif dan bertahan lama pada penanganan autisme.

Untuk menjalankan program-program ini YCHI memiliki dokter, psikolog, dan terapis berpengalaman. Rata-rata di setiap klinik hanya memiliki 6 terapis, jadi setiap anak hanya bisa mendapatkan sesi terapi 3 kali dalam seminggu.

“Karena tenaga terapis kita terbatas dan penanganan anak penyandang autisme itu kan harus one on one jadi kesanggupan kita rata-rata 3 kali dalam seminggu,” tutur Jufrie. Beberapa tempat yang memiliki terapis lebih banyak bisa mendapatkan terapis 6 kali dalam seminggu, misalnya di klinik YCHI yang berada di NTB.

Peran orangtua dalam perkembangan anak autis

anak autisme datang acara keluarga

Pada prosesnya, layanan terapi gratis yang diberikan YCHI bukan hanya terfokus pada anak autis, tapi juga bagaimana memberi bekal dan pemahaman pada orangtua.

Memiliki satu anak dengan autisme akan membawa perubahan besar pada hampir seluruh aspek kehidupan sebuah keluarga. Sejalan dengan terapi yang dilakukan, anak juga autisme butuh dukungan dari lingkungan sekitar untuk memahami kondisinya. Makanya dalam sesi terapi YCHI juga akan melibatkan orangtua secara penuh. 

“Aspek penanganan YCHI bukan hanya pada anak, tapi juga konseling pada orangtua, upgrading, teknik penanganan anak dengan autism di rumah. Ini supaya penanganan di klinik dan di rumah itu nyambung,” jelas Jufrie.

Setelah menjalani terapi, anak akan kembali ke rumah, ke keluarga dan berinteraksi dengan saudara-saudaranya. Bahkan masyarakat sekitar juga perlu untuk tahu walau sebatas pengetahuan dasar menghadapi anak penyandang autisme.

Anak berkebutuhan khusus membutuhkan edukasi dan perhatian khusus dari orangtua, orang-orang sekitar, masyarakat,dan juga Pemerintah. Banyak anak penyandang autisme di Indonesia yang tidak mendapatkan terapi yang dibutuhkan karena mahalnya proses terapi dan fasilitas yang kurang memadai.

Maka itu layanan terapi gratis untuk anak autis diharapkan bisa meluas ke seluruh penjuru negeri.

 

Artikel ini bersumber dari Hello Sehat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello
Powered by