Oleh: Miskatyas Putri Aransih, S.Si (Relawan YCHI)

Disabilitas intelektual(intellectual disability, ID) adalah kelainan perkembangan saraf pada otak yang cukup sering ditemukan.Data Badan Pusat Statistik (2006) menyatakan sekitar 1–3% penduduk Indonesia menyandang kondisi ID. ID dikenal juga dengan istilah retardasi mental (RM) atau tunagrahita. Sejak 28 Januari 2013, organisasi Federal Register di Amerika Serikat secara resmi mengubah istilah RM, yang dinilai berkonotasi negatif, menjadi intellectual disability (ID). Namun,istilah RM masih banyak digunakan untuk memudahkan pemahaman masyarakat.

Seorang anak dinyatakan menyandang ID jika memiliki hambatan fungsi intelektual dan perilaku adaptif sebelum usia 18 tahun.Sebagian penyandang ID pun menyandang kondisi-kondisi medis penyerta seperti kelainan genetik atau cacat fisik lain seperti penglihatan, pendengaran, dll.

Ciri fungsi intelektual penyandang ID adalah skor IQ (Intellectual Quotient, kecerdasan intelektual) rendah,yang berarti kemampuan intelektual anak berada di bawah rata-rata kemampuan anak seusianya. Berdasarkan skor IQ, kondisi ID dibagi menjadi empat: ringan (50–70), sedang (35–50), berat (20–35), dan sangat berat (kurang dari 20).

Perilaku adaptif adalah kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hariseperti komunikasi, bersosialisasi, dan merawat diri. Seorang anak dapat diperkirakan memiliki hambatan perilaku adaptif jika perkembangannya terlambat daridevelopmental milestones, yaitu patokan perkembangan kemampuan anak sejak usia dua bulan hingga lima tahun. Beberapa ciriyang paling umum adalah terlambat perkembangan motorik kasar; terlambat bicara; terlambat mandiri untuk makan, berpakaian, dan ke toilet; sulit mengingat;serta sulit memecahkan masalah dan berpikir logis.

Faktor-faktor yang berhasil diketahui dapat menimbulkan kondisi IDterdiri dari faktor biologis dan nonbiologis. Kondisi-kondisi kelainan genetik seperti Down syndrome danfragile Xsyndromeberkorelasi dengan kondisi ID. Faktor prenatal (prakelahiran) meliputi gangguan perkembangan janin akibat konsumsi alkohol dan obat-obatan, malnutrisi ibu, penyakit, dan radiasi. Faktor perinatal(saat kelahiran) mencakup permasalahan saat melahirkan seperti kondisi prematur, asfiksia, trauma, dan berat badan lahir rendah. Faktor postnatal(pascakelahiran) meliputi penyakit-penyakit seperti cacar dan batuk rejan, trauma, penyakit pada otak, malnutrisi, serta keracunan timbal (biasanya diperoleh dari cat dinding).

Faktor-faktor nonbiologis seperti diabaikan oleh lingkungan berdampak buruk pada perkembangan mental anak. Anak membutuhkan stimulasi interaksi seperti bermain dengan teman sebaya dan saudara untuk merangsang kemampuan komunikasi dan sosialisasinya. Sayangnya, tak jarang orang-orang di sekitar penyandang ID mengucilkan dan bahkan mencemooh sehingga penyandang ID kehilangan kepercayaan diri untuk bergaul.

Pendidikan untuk penyandang ID dahulu sempat dikategorikan menjadi educable (mampu didik) untuk kategori ringan, trainable (mampu latih) untuk yang sedang, dan custodial (mampu rawat) untuk yang berat dan sangat berat. Namun, pengategorian ini sudah ditinggalkan karena terlalu membatasi jenis intervensi yang dapat diberikan. Saat ini, intervensi yang diberikan kepada penyandang ID bergantung tingkat keparahannya. Penyandang ID ringan dapat belajar membaca dan berhitung setingkat anak usia sembilan sampai dua belas tahun. Selain itu, mereka dapat belajar keterampilan seperti memasak dan lain-lain serta dapat menggunakan transportasi umum sehingga dapat saat dewasa dapat hidup mandiri dan bekerja. Penyandang ID sedang umumnya mengalami hambatan kemampuan bicara sehingga perlu dibantu dengan terapi wicara. Mereka dapat melakukan aktivitas sederhana seperti menjaga kesehatan dan keamanan diri serta bekerja dalam kelompok, serta tetap memerlukan pendampingan. Penyandang ID berat dan sangat berat dapat dilatih untuk melakukan aktivitas sehari-hari yang sederhana, dan memerlukan pendampingan intensif seumur hidupnya.(di muat dalam MEDIA KALIMANTAN, RABU 23 Februari 2015)