Pentingnya Kerja Sama Orang Tua dan Terapis Untuk Perkembangan ABK Penyandang Autisme

Ditulis oleh YCHI. Posted in Berita

Oleh: Miskatyas Putri Aransih, S.Si

Membesarkan dan hidup dengan anggota keluarga penyandang autisme (dikenal juga dengan istilah ASD/Autism Spectrum Disorders) bukanlah perkara mudah. Para anak berkebutuhan khusus (ABK) penyandang autisme memiliki gangguan komunikasi yang membuat mereka terkesan seperti hidup dalam dunianya sendiri. Mereka menunjukkan gejala-gejala perilaku tidak wajar seperti ketiadaan interaksi sosial, sulit konsentrasi, minat yang terbatas terhadap suatu hal, mengulang-ulang ucapan yang tak lazim dan gerakan berpola, emosi yangmeledak-ledak, dan lain-lain.

Gejala yang terakhir biasanya muncul saat ABK mencapai usia pubertas walaupun bisa juga sebelumnya. ABK bisa tiba-tiba marah dan berperilaku agresif sehingga membuat orang tuanya stres. Banyak orang tua yang pada akhirnya putus asa karena tidak tahu strategi untuk menghadapi perilaku tersebut, bahkan tidak jarang yang memilih untuk berpisah. Padahal, dalam hal membesarkan anak dengan kondisi autisme, orang tua sudah seharusnya saling mendukung karena memang butuh kesabaran ekstra. Terlebih lagi, orang tualahaktor utama yang berperan mempersiapkan anak, baik ABK maupun non-ABK,untuk dapat hidup mandiri ketika dewasa.

Salah satu peran orang tua adalah menyediakan pendidikan yang sesuai dengan kondisi anak. Penyandang autisme memerlukan pendidikan khusus,seperti misalnya terapi untuk memperbaiki perilaku.Dalam hal ini, orang tua umumnya perlu bantuan profesional dari terapis untuk merancang program intervensi yang tepat.Bagi penyandang autisme, terapi perilaku pun penting untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan lain terutama kemampuan sosialisasi.Teknik terapi perilaku yang paling populer di seluruh dunia adalah terapi berbasis metode ABA (Applied Behavior Analysis), yang memberikan reward (hadiah) ketika anak berhasil melakukan sesuatu yang ditargetkan.

Walaupun pembuatan program-program terapi dibantu oleh terapis, namun dalampelaksanaannyamelibatkan tidak hanya terapis, tetapi juga seluruh penghuni rumah karena kebanyakan program-program terapi perilaku mencakup kegiatan sehari-hari.Sebagai contoh, untuk mengubah perilaku penyandang autisme yang seringkali berbicara dengan volume keras, seluruh anggota keluarga wajib ikut mengingatkan dan memberi hadiah berupa pujianketika anak berhasil merendahkan volume suaranya atau berinisiatif berbicara dengan volume rendah. Terapis wajib mengajarkan bagaimana menjalankan suatu program kepada orang tua. Setelah itu, “Orang tua harus bekerja sama dengan terapis agar dapat melakukan program terapi di luar sesi terapi, karena ABK menghabiskan jauh lebih banyak waktu bersama orang tua daripada terapis.” terang Vita (26 tahun, terapis ABK).

Apakah penyandang autisme akan ‘sembuh’ setelah diterapi? Autisme bukanlah penyakit sehingga tidak bisa disembuhkan. Walaupun tidak ada kata ‘sembuh’ untuk kondisi autisme, setidaknya dengan intervensi terapi anak akan semakin mendekati kondisi normal dan dapat hidup mandiri sehingga mengurangi ketergantungan pada orang lain. Keberhasilan program terapi itu sendiri bergantung pada kerja sama dan konsistensi antarpihak yang terlibat di dalamnya.( di muat dalam MEDIA KALIMANTAN, Rabu 28 Januari 2015)