ychi autism center jakarta

YCHI didirikan oleh Bapak Zulfikar Alimuddin dan Ibu Nila Susanti karena menyadari bagaimana beratnya tantangan mengurus anak kedua mereka yaitu Rayhan Iftikar yang menyandang autistic syndrome disorder.Oleh karena itu, mereka berjanji akan mendedikasikan pikiran, tenaga, dan financial mereka untuk membantu anak-anak berkebutuhan khusus dari keluarga kurang mampu.

Read More

ychi autism center jakarta

Charity Books, dengan aneka macam voucher seharga Rp. 100.000. Salurkan donasi Anda melalui rekening berikut :



Profil Terapis ABK: Maharani Putri Kusuma

Ditulis oleh YCHI on . Posted in Berita

Oleh: Miskatyas Putri Aransih, S.Si

Tak terbayangkan sebelumnya oleh Maharani Putri Kusuma, S.Psi (26 tahun) untuk menekuni bidang penanganan anak berkebutuhan khusus (ABK). Semua berawal empat tahun lalu, ketika wanita yang biasa dipanggil Rani ini ditawari untuk menjaga klinik SNETS (Special Need Therapy Services, layanan terapi nonberbayar milik YCHI) Condet yang saat itu baru buka. Tak lama setelah klinik itu menerima murid, dirinya ditunjuk untuk menjadi terapis. Berbekal ilmu yang diberikan oleh Case Manager(CM) dan pelatihan-pelatihan yang kemudian didapatnya, kepercayaan diri Rani untuk menjadi terapis tumbuh perlahan-lahan.

Dara kelahiran Tulungagung, 14 April 1988 ini mengaku bahagia selama menjalani profesi sebagai terapis ABK.Berinteraksi dengan ABK menjadikannya pribadi yang lebih sabar dan banyak bersyukur atas nikmat kesempurnaan jasmani dan rohani yang dianugerahkanTuhan kepadanya. Selama menjadi terapis, Ia pernah menangani murid dengan kondisi autisme, ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), sindrom Down, retardasi mental, dan kesulitan belajar.

Apa saja tugas seorang terapis ABK? Di YCHI, program-program terapi dirancang oleh CM, yang harus sudah punya jam terbang senior sebagai terapis dan menyelesaikan program pendidikan khusus CM. Program-program tersebut lalu dilaksanakan oleh terapis dalam sesi-sesi terapi. “Tugas terapis adalah mengusahakan yang terbaik supaya anak mampu menjalankan program yang sudah ditetapkan.”, jelas Rani. Di YCHI, terapis tidak harus memiliki latar belakang pendidikan terapis atau ilmu psikologi karena calon terapis wajib mengikuti pelatihan serta melalui sesi observasi dan tandem (memberi terapi dengan didampingi terapis senior) terlebih dahulu.

Menurutnya, tantangan terberat terapis adalah menjalin keakraban dan keterbukaan dengan murid serta harus selalu ceria saat sesi terapi. “Aku sering kasihan karena mereka itu peka banget. Walaupun (aku) sudah akting (ceria), tetap aja ada beberapa anak yang tahu (kalau sebenarnya aku sedang bad mood).Akhirnya, mereka (pun) jadi nggaksemangat.”, ujarnya.

Kriteria utama untuk menjadi terapis adalah berjiwa sabar dan tidak mudah menyerah. Murid belum tentu dapat langsung menguasai materi terapi, sehingga perlu banyak pengulangan. “Prinsipnya bisa karena terbiasa.”, tegasnya. Terapis juga dituntut kreatif untuk membuat suasana belajar menyenangkan.

Jika pada masa lalu keluarga sering mengurung dan memasung ABK karena tidak tahu cara menanganinya, sekarang sudah banyak yang mengerti tentang ABK dan ingin memberi penanganan yang tepat. Maka, kebutuhan akan terapis ABK baik pria maupun wanita saat ini sangat besar. Walaupun kriteria-kriteria di atas identik dengan sifat kaum hawa, ketersediaan terapis pria sangat dibutuhkan karena perbandingan ABK pria dan wanita adalah 4:1. ABK pria memerlukan panutan (role model) terapis pria, terutama untuk materi-materi yang berhubungan dengan aktivitas pribadi seperti toilet training. 

Dukungan keluarga berperan sangat penting, terutama dalam generalisasi program terapi di kehidupan sehari-hari ABK, karena sebagian ABK hanya bisa menerapkan apa yang sudah diajarkan ketika terapi di situasi-situasi tertentu saja. Maka, sebaiknya anggota keluarga hadir saat sesi terapi untuk mempelajari materi dan pola pemberiannyaagar dapat dilakukan di luar sesi terapi. Faktor penghambat terbesar dalam perkembangan ABK pun, menurut alumni S1 Psikologi UPI YAI ini, berasal dari faktor keluarga,seperti perbedaan pola asuh antara ayah dan ibu.

Untuk menjadi profesional, terapis harus terus meningkatkan kemampuannya. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara. “Dimulai dari terus mencari ilmu-ilmu yang berkaitan, belajar dari sesama terapis, mengikuti pelatihan-pelatihan, dan tidak segan bertanya pada orang tua (dalam menghadapi ABK-nya) karena bagaimanapun merekalah yang paling mengenal anak didik kita.”, tutup Rani.(di muat dalam MEDIA KALIMANTAN, RABU 4 Februari 2015)